Bakalbeda.com - Di tengah hiruk-pikuk pasar tradisional, langkahnya tak sekadar melangkah. Putri Widhiasari Kusumaningtyas, Puteri Indonesia Remaja Budaya 2023, menapak penuh makna di Pasar Enjo Pisangan, Jakarta Timur.
Bukan sekadar catwalk, ini adalah peragaan busana yang bertutur, memperkenalkan warisan budaya Indonesia di jantung keseharian rakyat.
Putri, gadis kelahiran 29 Maret 2008, tampil anggun dengan Suntiang yang menjulang, Paes yang membingkai wajahnya, dan Kembang Goyang yang menari di rambutnya.
Semua itu, karya desainer muda berbakat Coco Rama. Tak hanya sekadar indah, busana ini berbicara.
Pesan yang ia bawa jelas: budaya Indonesia harus hidup, harus terus dikenakan, bahkan di tempat-tempat yang mungkin tak biasa.
"Aku ingin memperkenalkan sedikit budaya Indonesia dalam bentuk Suntiang, Paes, dan Kembang Goyang, di tempat umum, di salah satu pasar tumpah di Pasar Enjo Pisangan, Jaktim," ujar Putri, dengan mata berbinar.
Tak berhenti di catwalk, Putri mendekat ke pengunjung pasar. Ia mengajak mereka berbincang, mengenalkan keunikan budaya yang ia kenakan.
"Aku ingin memperkenalkan sedikit budaya Indonesia dalam bentuk Suntiang, Paes, dan Kembang Goyang, di tempat umum, di salah satu pasar tumpah di Pasar Enjo Pisangan, Jaktim," ujar Putri, dengan mata berbinar.
Tak berhenti di catwalk, Putri mendekat ke pengunjung pasar. Ia mengajak mereka berbincang, mengenalkan keunikan budaya yang ia kenakan.
Dengan busana adat Jawa Tengah yang melekat di tubuhnya, ia menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar warisan, tapi identitas yang harus tetap hidup.
"Nongkrong Gen Z dengan menggunakan baju adat Jawa Tengah dan memperkenalkan Paes Jogja Putri," katanya.
"Nongkrong Gen Z dengan menggunakan baju adat Jawa Tengah dan memperkenalkan Paes Jogja Putri," katanya.
"Kami juga mengajak pengunjung untuk ber-swafoto di taman dengan mengenakan busana mojang lengkap dengan kembang goyang, sekaligus mengenalkan sedikit budaya Indonesia."
Dan masyarakat? Mereka tak sekadar menyaksikan. Mereka larut, antusias, bahkan ikut serta dalam sesi foto.
Dan masyarakat? Mereka tak sekadar menyaksikan. Mereka larut, antusias, bahkan ikut serta dalam sesi foto.
Tanya jawab pun mengalir, tak hanya tentang keindahan busana, tapi juga tentang makna di balik setiap helai kain dan setiap lekuk riasan.
"Respons dari masyarakat sangat baik, mereka antusias sampai ikut foto bersama. Kami juga mengadakan tanya jawab tentang apa yang kami kenakan, dan menjelaskan budaya yang diperkenalkan," ujar Putri, dengan senyum penuh harapan.
Ini lebih dari sekadar catwalk di pasar tradisional. Ini adalah panggung bagi budaya, ruang bagi generasi muda untuk menyentuh akar, menyadari identitas, dan memahami bahwa budaya bukanlah sesuatu yang ketinggalan zaman, melainkan sesuatu yang selalu bisa relevan, jika kita memilih untuk tetap menjadikannya bagian dari hidup kita.***
"Respons dari masyarakat sangat baik, mereka antusias sampai ikut foto bersama. Kami juga mengadakan tanya jawab tentang apa yang kami kenakan, dan menjelaskan budaya yang diperkenalkan," ujar Putri, dengan senyum penuh harapan.
Ini lebih dari sekadar catwalk di pasar tradisional. Ini adalah panggung bagi budaya, ruang bagi generasi muda untuk menyentuh akar, menyadari identitas, dan memahami bahwa budaya bukanlah sesuatu yang ketinggalan zaman, melainkan sesuatu yang selalu bisa relevan, jika kita memilih untuk tetap menjadikannya bagian dari hidup kita.***
0Comments